Sebuah Web Literasi Dakwah Berkemajuan

Bagian dari Dakwah Muhammadiyah Berkemajuan di Pacitan .

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jemput Zakat

Pelayanan untuk Muzakki.

Senin, 30 Maret 2026

Syawal Transformasi Ramadhan Menuju Haji

 


Secara etimologis, kata "Syawal" berasal dari bahasa Arab shala yang berarti 'naik' atau 'meninggi'. Makna ini mengandung pesan filosofis yang mendalam bagi setiap Muslim: bahwa bulan ini bukanlah garis finis setelah menempuh perjalanan panjang di bulan Ramadhan, melainkan titik awal untuk mendaki derajat spiritual yang lebih tinggi. Jika Ramadhan adalah sebuah "Madrasah" atau sekolah tempat jiwa ditempa, maka Syawal adalah masa implementasi sekaligus transisi.

Bagi umat Islam di Indonesia dan dunia, Syawal juga menandai dimulainya musim haji (Asyhurul Hajj). Hubungan antara berakhirnya puasa dan dimulainya perjalanan menuju Baitullah bukanlah sebuah kebetulan dalam kalender Hijriah. Ada benang merah transformasi yang menghubungkan kedisiplinan Ramadhan dengan kesiapan fisik dan batin untuk memenuhi panggilan Nabi Ibrahim AS. Artikel ini akan menguraikan bagaimana nilai-nilai Ramadhan bertransformasi menjadi energi spiritual dalam menempuh ibadah haji.

Ramadhan sebagai Fondasi Transformasi

Sebelum melangkah ke Baitullah, seorang calon jamaah haji harus lulus dari tempaan Ramadhan. Ramadhan menyediakan tiga fondasi utama:

Pembersihan Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Puasa mengajarkan pengendalian diri dari syahwat dasar. Tanpa jiwa yang bersih, perjalanan haji hanya akan menjadi wisata sejarah tanpa makna.

Kedisiplinan Waktu dan Ritual: Ketepatan waktu sahur dan berbuka melatih jamaah haji untuk disiplin dalam rangkaian manasik yang sangat terikat waktu.

Empati Sosial: Zakat fitrah di akhir Ramadhan menanamkan rasa kemanusiaan. Haji adalah ibadah yang mempertemukan jutaan manusia dari berbagai strata sosial; tanpa empati, gesekan fisik di Masjidil Haram akan memicu kemarahan (rafats dan fusuq).

Syawal dan Esensi "Peningkatan"

Banyak orang terjebak dalam euforia Lebaran sehingga mengalami penurunan kualitas ibadah setelah Ramadhan berlalu. Padahal, indikator keberhasilan Ramadhan seseorang justru terlihat di bulan Syawal.

Konsistensi (Istiqomah): Puasa enam hari di bulan Syawal adalah ujian pertama. Ini menunjukkan bahwa ketaatan kita bukan karena "musim", melainkan karena kebutuhan ruhani.

Transformasi Perilaku: Syawal adalah waktu di mana kesabaran yang dilatih saat haus dan lapar diuji dalam interaksi sosial (silaturahmi). Perjalanan haji membutuhkan stok kesabaran yang luar biasa, dan Syawal adalah masa "pemanasannya".

Syawal sebagai Pintu Gerbang Haji (Asyhurul Hajj)

Allah SWT berfirman: "(Musim) haji itu adalah beberapa bulan yang telah diketahui..." (QS. Al-Baqarah: 197). Para ulama sepakat bahwa bulan-bulan haji dimulai sejak 1 Syawal.

Niat yang Menghujam: Begitu memasuki 1 Syawal, suasana batin seorang Muslim yang mendapat panggilan haji harus mulai beralih fokus. Segala persiapan teknis dan mental mulai dikerahkan.

Melepaskan Keterikatan Duniawi: Sebagaimana kita meninggalkan makan dan minum di bulan Ramadhan, berangkat haji di bulan Syawal/Dzulqa'dah berarti bersiap meninggalkan keluarga, harta, dan jabatan demi menghadap Allah di Padang Arafah.

Relevansi Spiritual Ramadhan dalam Ritual Haji

Transformasi dari "Lulusan Ramadhan" menjadi "Tamu Allah" (Dhuyufurrahman) terlihat dalam korelasi berikut:

Ihram dan Kain Kafan: Sebagaimana puasa melepas kesenangan ragawi, kain ihram melepas atribut keduniawian. Keduanya adalah latihan "kematian sebelum mati".

Thawaf dan Orbit Ketaatan: Jika saat Ramadhan hidup kita berputar di sekitar Al-Qur'an dan masjid, maka Thawaf adalah simbolisasi bahwa seluruh hidup kita harus berporos pada Allah.

Sa'i dan Optimisme: Usaha antara Shafa dan Marwah mencerminkan kegigihan mencari ridha Allah, serupa dengan kegigihan menjaga puasa meski godaan melanda.

Menjaga Kemabruran: Dari Syawal hingga Akhir Hayat

Haji yang mabrur tidak hanya berhenti saat jamaah mencium Hajar Aswad, tetapi dimulai saat mereka kembali ke tanah air. Transformasi yang dimulai dari Syawal harus terus "menaik" (sesuai arti kata Syawal itu sendiri).

Haji adalah "Ramadhan Besar"

Jika Ramadhan dilakukan sebulan dalam setahun, haji dilakukan sekali dalam seumur hidup sebagai puncak transformasi. Orang yang berhasil membawa ruh Syawal ke Baitullah akan pulang dengan karakter baru: lebih peduli pada sesama, lebih rendah hati, dan lebih khusyuk dalam ibadah.

Akhirul Kalam

Syawal adalah jembatan emas. Di satu sisi, ia menyerap energi ketaatan dari Ramadhan; di sisi lain, ia membentangkan jalan menuju Baitullah. Perjalanan dari Ramadhan, melalui Syawal, menuju haji adalah siklus penyempurnaan diri. Bagi mereka yang belum berangkat haji secara fisik, ruh Syawal tetap harus dibawa untuk "menghajikan" hati—membersihkannya dari berhala duniawi dan mengarahkannya hanya kepada Allah SWT.

Semoga transformasi di bulan Syawal ini mengantarkan kita menjadi pribadi yang selalu "meningkat" hingga tiba saatnya kita bersimpuh di depan Ka'bah, menyambut seruan-Nya: Labbayk Allahumma Labbayk.

Banyak aspek yang perlu dibedah dan diuraikan tentang pelaksanaan ibadah haji secara mendalam.

[Ambyah]








Dikutip dan diedit seperlunya dari mode AI : klik di sini.


Minggu, 29 Maret 2026

Tips Hari Pertama Masuk Kerja Setelah Cuti Bersama dan WFA


 Hari pertama kembali ke kantor setelah masa Cuti bersama dan Work From Anywhere (WFA)—terutama pasca-libur Lebaran—memang butuh penyesuaian mental dan fisik agar tetap produktif.

Berikut adalah tips praktis untuk menghadapi hari pertama masuk kerja:

1. Persiapan Malam Sebelumnya

Siapkan Pakaian dan Perlengkapan: Mengurangi beban pengambilan keputusan di pagi hari akan membantu Anda tetap tenang. Pilih pakaian yang membuat Anda percaya diri namun tetap nyaman, atau jika pakaian sudah ditetapkan pakaian seragam, tetap dipersiapkan juga.

Atur Jadwal Tidur: Kembalikan ritme tidur normal setelah masa WFA agar Anda bisa bangun tepat waktu dan tidak terburu-buru ke kantor. 

2. Manajemen Waktu dan Kehadiran

Datang Lebih Awal: Hindari stres akibat macet (terutama saat arus balik atau jam sibuk) dengan berangkat lebih pagi. Datang lebih awal memberi Anda waktu untuk beradaptasi kembali dengan suasana meja kerja.

Cek Jadwal dan Email: Fokus pada sinkronisasi informasi. Lihat catatan atau email yang masuk selama Anda WFA untuk menentukan prioritas tugas hari itu. Termasuk juga catatan kerja yang belum tuntas saat WFA. 

3. Sosialisasi dan Koneksi Ulang

Sapa Rekan Kerja: Gunakan momen hari pertama untuk menjalin silaturahmi kembali dengan rekan setim. Hal ini dapat meningkatkan suasana hati dan rasa kebersamaan setelah bekerja jarak jauh. Biarpun sudah bersilaturahmi via grup WA akan lebih baik kegiatan halalbihalal  berjalab tangan saling memaafkan dan mendoakan dengan teman di kantor tetap diperlukan.

Diskusi Singkat: Lakukan update singkat dengan tim mengenai progres pekerjaan selama WFA untuk memastikan semua orang berada di frekuensi yang sama. 

4. Fokus pada Produktivitas Bertahap

Buat To-Do List: Susun daftar tugas dari yang paling mendesak. Jangan memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus untuk menghindari burnout.

Istirahat Berkala: Tetap luangkan waktu singkat untuk beristirahat di sela-sela jam kantor guna menjaga fokus tetap tajam sepanjang hari. 

5. Jaga Kesehatan dan Mood

Asupan Nutrisi: Sarapan sehat dan minum cukup air akan membantu menjaga tingkat energi Anda tetap stabil saat beralih dari lingkungan rumah ke kantor.

Berpikir Positif: Fokus pada manfaat bekerja di kantor, seperti kolaborasi yang lebih cepat dan fasilitas kantor yang lebih lengkap. 

Mungkin ada tips lain, silakan ditulis di kolom komentar.

[Ambyah]







Tulisan diedit dan disesuaikan, sumber tulisan klik sumber tulisan


The Power of Halalbihalal

Di lingkungan tempat tinggal, kantor/tempat kerja, juga komunitas hobi pada sepekan awal di bulan Syawal 1447 H., diselenggarakan kegiatan halalbihalal. Bukan sekedar kumpul bersama, bersalam-salaman dan makan-makan, tetapi ada makna lain yang lebih kuat dan penting dari semua itu dalam pergaulan sesama di masa berikutnya.

Banyak perspektif terkait dengan kegiatan halalbihalal ini, tulisan ini mencoba mengaitkan kegiatan halalbihalal dari sudut pandang Muhammadiyah.

Bagi Muhammadiyah, halalbihalal bukan sekadar ritual tahunan pasca-Ramadan, melainkan sebuah instrumen strategis untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) melalui pendekatan dakwah kultural. Muhammadiyah memandang tradisi ini sebagai manifestasi dari nilai-nilai Islam yang ditarik ke dalam konteks sosial Indonesia guna menciptakan keharmonisan umat. 

Berikut adalah poin-poin utama mengenai "kekuatan" halalbihalal dalam perspektif Muhammadiyah:

1. Pelopor Modernisasi Tradisi 

Muhammadiyah tercatat sebagai salah satu organisasi yang memodernisasi dan memformalkan tradisi silaturahmi ini. Majalah Suara Muhammadiyah telah mencatat istilah dan praktik serupa sejak tahun 1924, jauh sebelum istilah ini populer secara nasional pada tahun 1948. 

Transformasi Budaya: Muhammadiyah mengubah pertemuan keluarga yang bersifat privat menjadi acara organisasi yang inklusif dan terstruktur.

Dakwah Kultural: Praktik ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak anti-budaya, melainkan melakukan "pribumisasi" Islam dengan mengisi tradisi lokal menggunakan nilai-nilai syariat. 

2. Sarana Rekonsiliasi dan "Fixing" Bangsa

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menekankan bahwa halalbihalal harus menjadi sarana fixing (memperbaiki), bukan sekadar flexing (pamer). 

Menyambung yang Terputus: Kekuatannya terletak pada kemampuan untuk menyatukan kembali elemen bangsa yang sempat terbelah akibat perbedaan politik atau egoisme sektoral.

Melampaui Batas Agama: Halalbihalal di lingkungan Muhammadiyah sering kali bersifat terbuka, mengundang berbagai tokoh lintas agama dan golongan untuk memperkuat tenun kebangsaan. 

3. Pembersihan Spiritual dan Sosial (Penyelesaian Masalah)

Secara filosofis, Muhammadiyah memaknai halalbihalal sebagai upaya "menghalalkan" atau menyelesaikan sangkutan antarmanusia yang bersifat hablum minannas. 

Meluruskan Benang Kusut: Istilah ini merujuk pada upaya mencairkan hubungan yang beku dan melepaskan ikatan permusuhan agar hubungan kembali harmonis.

Kesehatan Jiwa: Silaturahmi dalam halalbihalal dianggap sebagai terapi psikologis yang menyehatkan jiwa karena membuang residu kebencian dan dendam. 

4. Bukan Bid'ah, Melainkan Tradisi Hasanah

Menanggapi pandangan sebagian kelompok yang menganggap halalbihalal sebagai bid'ah, Muhammadiyah menegaskan bahwa kegiatan ini adalah tradisi keislaman yang baik (tradisi hasanah). 

Landasan Syar'i: Meskipun istilahnya tidak ada dalam Al-Qur'an secara spesifik, esensinya—yaitu silaturahmi dan saling memaafkan—merupakan perintah agama yang sangat ditekankan.

Produktivitas Umat: Muhammadiyah mendorong agar momentum ini juga digunakan untuk mengonsolidasi potensi umat guna memajukan dakwah dan pelayanan sosial, seperti pendidikan dan kesehatan. 

Melalui halalbihalal, Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk memiliki jiwa besar, melapangkan dada, dan menjadikan nilai-nilai puasa Ramadan sebagai modal sosial untuk membangun peradaban yang berkemajuan. 

[Ambyah]





Dikutip dan diedit seperlunya dari mode AI dengan promrt : the power of halalbihalal




Jumat, 27 Maret 2026

Keutamaan Hari Jumat


Ramadhan berlalu, masuk bulan Syawal saat yang tepat untuk memulai kembali untuk istiqomah menjalankan perintah-Nya yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan. Alhamdulillah, diberikan kesempatan ber-hari Jum'at, untuk recharging semangat kita untuk beribadah di Jumat pernuh berkah.

Hari Jumat (Yaumul Jumu'ah) adalah hari yang sangat istimewa dalam Islam, sering dijuluki sebagai Sayyidul Ayyam atau "Rajanya Hari". Nama "Jumat" sendiri berasal dari bahasa Arab al-jum'ah yang berarti berkumpul, merujuk pada tradisi umat Muslim berkumpul untuk beribadah. 

Keutamaan Hari Jumat

Berdasarkan berbagai sumber hadis dan ajaran Islam, berikut adalah beberapa alasan mengapa hari Jumat begitu mulia:

Hari Paling Baik: Rasulullah SAW menyebutkan bahwa hari terbaik di mana matahari terbit adalah hari Jumat.

Peristiwa Besar: Allah menciptakan Nabi Adam, memasukkannya ke dalam surga, dan mengeluarkannya ke bumi pada hari Jumat.

Hari Kiamat: Hari kiamat juga diyakini akan terjadi pada hari Jumat.

Waktu Mustajab: Terdapat waktu khusus (antara Ashar hingga Maghrib) di mana doa seorang hamba tidak akan tertolak. 

Amalan yang Dianjurkan

Untuk memaksimalkan keberkahan di hari ini, umat Islam dianjurkan melakukan beberapa amalan: 

Mandi Jumat: Mandi sunnah sebelum berangkat melaksanakan salat Jumat.

Membaca Surat Al-Kahfi: Dianjurkan untuk membaca surat ini agar mendapatkan cahaya perlindungan dari Allah hingga Jumat berikutnya.

Memperbanyak Selawat: Berselawat kepada Nabi Muhammad SAW sepanjang hari.

Sedekah: Memperbanyak berbagi kepada sesama sebagai bentuk syukur.

Kebersihan Diri: Memotong kuku, mencukur kumis, serta menggunakan wangi-wangian (bagi laki-laki) saat menuju masjid. 

Selain sebagai hari ibadah, saat ini pemerintah juga tengah mendiskusikan opsi kebijakan Work From Home (WFH) pada hari Jumat untuk meningkatkan produktivitas dan keseimbangan hidup karyawan. 

[Ambyah]



diaolah dari Mode AI dengan prompt : hari jumat



Kamis, 26 Maret 2026

Teks Khutbah Jumat : Menjalin dan Menjaga Silaturahim

Silaturahmi di bulan Syawal merupakan tradisi penting, terutama di Indonesia, yang berfungsi sebagai momen peningkatan (penyambungan kembali) tali persaudaraan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan. 

Berikut adalah poin-poin utama mengenai silaturahmi di bulan Syawal:

1. Makna dan Filosofi

Peningkatan Kedekatan: Nama "Syawal" sendiri secara harfiah berarti "peningkatan", sehingga silaturahmi di bulan ini dimaknai sebagai upaya meningkatkan hubungan sosial dan keagamaan.

Pembersihan Hati: Menjadi momen saling memaafkan (halalbihalal) untuk membersihkan hati dari dendam atau kesalahan masa lalu.

Spiritual Reunion: Dianggap sebagai ajang reuni spiritual untuk memperkuat ikatan kekeluargaan, kemasyarakatan, dan keislaman. 

2. Manfaat dan Keutamaan

Berdasarkan dalil-dalil agama, bersilaturahmi memiliki beberapa keutamaan utama: 

Melapangkan Rezeki: Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW, silaturahmi menjadi jalan bagi Allah untuk memperluas rezeki hambanya.

Memperpanjang Umur: Keberkahan umur dan kesehatan sering kali dikaitkan dengan terjaganya hubungan baik antar sesama.

Mendapatkan Rida Allah: Silaturahmi merupakan tanda orang beriman yang bertaqwa, yang mendatangkan kasih sayang dan rahmat dari Allah SWT.

Jalan Menuju Surga: Menjadi salah satu amalan yang dapat menjauhkan seseorang dari api neraka dan memasukkannya ke surga. 

3. Tradisi di Indonesia

Halalbihalal: Tradisi khas Indonesia sejak tahun 1920-an yang melibatkan kunjungan ke rumah saudara, tetangga, hingga kerabat kerja.

Berbagi dan Berkumpul: Diwarnai dengan berbagi makanan (seperti tradisi grebeg syawal atau bancaan) dan pemberian santunan sebagai bentuk kasih sayang.

Ziarah Kubur: Selain mengunjungi yang masih hidup, masyarakat umumnya melakukan ziarah ke makam keluarga yang telah tiada untuk mendoakan mereka. 

4. Esensi Silaturahmi yang Sebenarnya

Penting untuk dipahami bahwa makna silaturahmi yang paling utama menurut sebagian ulama adalah menyambung kembali hubungan yang sempat putus atau renggang, bukan sekadar berkunjung ke teman yang hubungannya memang sudah baik. 

Berikut adalah teks khutbah Jumat (8 Syawaal 1447 H) yang berjudul Menjalin dan Menjaga Silaturahim dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul DIY, untuk mengunduh file PDF, klik di sini.

[Ambyah]



Diolah dan diedit dari Mode AI dengan prompt : tentang silaturahmi di bulan syawal

Rabu, 25 Maret 2026

Puasa Sunnah di Bulan Syawal

 

Pelaksanaan puasa sunah enam hari di bulan Syawal merupakan amalan yang sangat dianjurkan (sunah muakkadah) dalam pandangan Muhammadiyah, merujuk pada tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid.

Berikut adalah uraian mendalam mengenai tata cara, hukum, dan perspektif Muhammadiyah mengenai ibadah ini.

1. Landasan Hukum dan Keutamaan

Muhammadiyah mendasarkan kesunahan puasa Syawal pada hadis sahih riwayat Muslim: "Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh".

Secara matematis, Majelis Tarjih menjelaskan bahwa setiap satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Dengan demikian, 30 hari puasa Ramadan setara dengan 300 hari, ditambah 6 hari puasa Syawal yang setara dengan 60 hari, sehingga totalnya adalah 360 hari (satu tahun penuh dalam kalender Hijriah).

2. Waktu dan Tata Cara Pelaksanaan

Menurut fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah, terdapat fleksibilitas dalam pelaksanaannya:

Waktu Mulai: Puasa dapat dimulai pada tanggal 2 Syawal, karena pada 1 Syawal (Idulfitri) hukumnya haram untuk berpuasa.

Metode Pelaksanaan:

Berturut-turut: Dilakukan langsung selama enam hari sejak tanggal 2 Syawal. Cara ini dianggap lebih utama (afdal) karena menunjukkan sikap bersegera dalam kebaikan (musara'ah fil khairat).

Terpisah-pisah: Boleh dilakukan secara acak (tidak berurutan) selama masih di dalam bulan Syawal. Muhammadiyah memberikan kebebasan bagi umat untuk memilih cara yang paling memungkinkan sesuai kondisi masing-masing.

3. Dilema Qadha Ramadan vs. Puasa Syawal

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah mana yang harus didahulukan antara membayar utang puasa Ramadan (qadha) atau puasa Syawal. Pandangan dalam lingkungan Muhammadiyah cenderung sebagai berikut:

Mendahulukan yang Wajib: Sangat dianjurkan untuk menyelesaikan qadha Ramadan terlebih dahulu. Hal ini karena perintah membayar utang puasa bersifat wajib, sedangkan puasa Syawal adalah sunah.

Kesempurnaan Pahala: Redaksi hadis menyebutkan "kemudian diikuti", yang secara tekstual mengisyaratkan bahwa puasa Ramadan harus genap terlebih dahulu agar seseorang mendapatkan pahala seperti puasa setahun penuh.

Penggabungan Niat: Meski ada pendapat ulama yang membolehkan penggabungan niat (tasyrik), Muhammadiyah melalui berbagai penjelasan kadernya menyarankan pemisahan niat untuk menjaga kehati-hatian ibadah, kecuali jika waktu Syawal sudah hampir habis dan utang qadha belum selesai.

4. Niat dan Praktik Ibadah

Berbeda dengan puasa wajib yang niatnya harus dilakukan di malam hari (tabyit), niat puasa sunah Syawal dapat dilakukan pada pagi hari (sepanjang belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa lainnya). Niat cukup dihadirkan dalam hati untuk menjalankan perintah Allah.

5. Signifikansi dalam "Islam Berkemajuan"

Bagi Muhammadiyah, puasa Syawal bukan sekadar rutinitas ritual, melainkan manifestasi dari istiqamah. Melaksanakan puasa sunah setelah menunaikan kewajiban besar di bulan Ramadan merupakan bukti keberhasilan "Madrasah Ramadan" dalam membentuk karakter takwa yang berkelanjutan.

Ibadah ini juga berfungsi sebagai penyempurna (seperti salat rawatib terhadap salat fardu) untuk menambal kekurangan yang mungkin terjadi selama puasa Ramadan.

Semoga kita semua dapat melaksanakan ibadah sunnah puasa 6 hari di bulan Syawal tahun ini. Semoga Alloh memberikan kemudahan kepada kita semuanya. Aamiin.

[Ambyah]








Tulisan dibuat dengan prompt mode AI : buatlah narasi dan uraian 1500 kata tentang puasa sunnah di bulan syawal menurut muhammadiyah 


Senin, 23 Maret 2026

Infaq dan Sedekah Pasca Ramadhan



Infaq dan sedekah setelah bulan Ramadhan (pasca-Ramadhan) merupakan ujian sesungguhnya bagi seorang Muslim untuk menjaga istiqomah (konsistensi) dalam beribadah. Meskipun pahala di bulan Ramadhan sangat istimewa, semangat berbagi tidak boleh berhenti saat bulan suci berakhir. 

Berikut adalah poin-poin penting mengenai infaq dan sedekah pasca-Ramadhan:

1. Menjaga Konsistensi (Istiqomah)

Bukti Ketakwaan: Melanjutkan kebiasaan sedekah setelah Ramadhan adalah salah satu tanda amal ibadah di bulan puasa diterima oleh Allah SWT.

Keberlanjutan: Berinfak tidak harus dalam jumlah besar, namun yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara rutin atau konsisten (dawam). 

2. Bentuk-Bentuk Sedekah Pasca-Ramadhan

Sedekah Jariyah: Melanjutkan kontribusi untuk pembangunan sarana ibadah atau pendidikan yang manfaatnya terus mengalir, seperti melalui Lazismu.

Sedekah Subuh: Mengawali hari dengan berbagi, yang dipercaya dapat mendatangkan keberkahan dan doa dari malaikat di pagi hari.

Donasi Digital : Memanfaatkan kemudahan aplikasi online atau pemindaian QRIS untuk menyalurkan infaq secara praktis kapan saja. I

3. Saluran Penyaluran Resmi

Untuk memastikan infaq dan sedekah Anda tepat sasaran dan dikelola secara akuntabel, Anda dapat menyalurkannya melalui lembaga resmi seperti: 

Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU), juga kepada Lembaga Amil Zakat yang lain yang memiliki program berkelanjutan pasca-Ramadhan. 

4. Manfaat yang Tetap Berlanjut

Meskipun dilakukan di luar Ramadhan, sedekah tetap memiliki keutamaan luar biasa, di antaranya:

Menyucikan Harta: Menghapus dosa dan membersihkan diri dari sifat kikir.

Investasi Akhirat: Seperti menanam pohon yang buahnya akan dipetik di masa depan.

Menolak Bala: Menjadi wasilah perlindungan dari kesulitan hidup. 

Ingin tetap berinfaq dan bersedekah dari mana saja, berapa pun  dan kapan pun melalui Lazismu, klik di sini.

[Ambyah]




Tulisan diolah dari mode AI dengan prompt : infaq dan sedekah pasca ramadhan.



Minggu, 22 Maret 2026

LAZISMU Pacitan Himpun Lebih dari 400 juta Rupiah Untuk Program Ramadhan 1447 H.

Lazismu Daerah Pacitan berhasil melakukan penghimpunan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) sebanyak Rp. 404.115.776,- selama bulan Ramadhan 1447 H. Masyarakat Pacitan memiliki kesadaran yang cukup besar dalam menunaikan ZIS jika melihat pencapaian penghimpunan yang mencapai angka lebih 80 juta rupiah dibanding dengan penghimpunan Lazismu tahun lalu. 

Ketua Pengurus Daeah Lazismu Pacitan, Agus Hadi Prabowo mengungkapkan bahwa angka penghimpunan ini bisa dicapai berkat andil dari semua pihak, baik muzaki yang menunaikan ZIS maupun amil yang melakukan penghimpunan dana ZIS tersebut. "Angka ini menunjukkan bahwa muzaki yang memercayakan pembayaran ZIS-nya melalui Lazismu Pacitan cukup bagus.  Alhamdulillah, mudah-mudahan semakin banyak muzaki yang mempercayakan zakatnya pada kami, kami optimis akan hal ini," harap Agus.

Jumlah penghimpunan tersebut merupakan akumulasi dari perolehan zakat fitrah, zakat maal, infak program, dan infak tidak terikat. Ibnu, Staf Keuangan Lazismu Daerah Pacitan pun merinci angka yang berhasil diperolah. "Zakat fitrah yang terhimpun sejumlah Rp. 87.592.100, zakat maal Rp. 45.700.176, infak tidak terikat Rp. 270.821.500, dan dan beras zakat fitrah seberat 446 kilogram," ungkapnya.

Penghimpunan ini, tambah Ibnu, didukung oleh 4 Kantor Layanan Lazismu (KLL) di Pimpinan Cabang Muhammadiyah yang ada di wilayah Pacitan. "Penghimpunannya dilakukan oleh Lazismu Daerah bersama 4  KLL dan relawan yang tersebar di lokasi Amal Usaha Muhammadiyah se Kabupaten Pacitan," tambah Ibnu..

Sementara itu, Agus Ketua Lazismu Daerah Pacitan menjelaskan, dana yang terhimpun disalurkan melalui program-program seperti Tebar Takjil,  Back To Masjid, dan Program Indonesia Siaga. Ia pun menegaskan, Lazismu Daerah Pacitan selalu melaporkan penyaluran dana ZIS yang telah dipercayakan oleh muzaki melalui media sosial dan website yang ada.

"Untuk setiap dana yang terhimpun insya Allah kami selalu ada pelaporannya dan catatannya. Program-program di Lazismu Pacitan juga jelas sifatnya memberdayakan masyarakat. Karena tujuan besar Lazismu bukan hanya memberikan bantuan saja, tapi mengupayakan mustahik kelak dapat berubah menjadi muzaki, apalagi tiap tahun Lazismu Pacitan dilakukan Audit Syariah dan Audit Keuangan," terang Agus.

[Ambyah]


Pesan Pasca Ramadhan

 

Masa pasca Ramadhan adalah periode krusial bagi umat Muslim untuk menjaga keberlanjutan ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama sebulan penuh. Fokus utamanya adalah istiqamah (konsistensi) agar Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, melainkan awal transformasi diri yang lebih baik. 

Berikut adalah poin-poin penting untuk menjaga semangat ibadah pasca Ramadhan:

1. Amalan Sunnah yang Dianjurkan 

Puasa Syawal: Melaksanakan puasa sunnah selama 6 hari di bulan Syawal memiliki keutamaan seperti berpuasa setahun penuh dan berfungsi menyempurnakan kekurangan selama puasa wajib.

Melanjutkan Puasa Sunnah Lainnya: Membiasakan kembali puasa Senin-Kamis atau puasa Arafah untuk menjaga ritme ibadah.

Tilawah Al-Qur'an: Menjaga rutinitas membaca dan mentadabburi Al-Qur'an, meskipun intensitasnya tidak setinggi saat bulan Ramadhan. 

2. Evaluasi dan Transformasi Diri

Evaluasi Kualitas Ibadah: Meninjau kembali pengendalian diri, kedermawanan sosial, dan manajemen waktu yang telah dipraktikkan.

Merawat Ketakwaan: Memastikan bahwa kebiasaan baik seperti shalat tepat waktu dan berbagi kepada sesama tetap berlanjut sebagai wujud kemenangan yang sesungguhnya.

Menjadi Muslim Berdampak: Membawa nilai-nilai kesalehan individu ke ranah sosial agar bermanfaat bagi masyarakat luas. 

3. Klasifikasi Golongan Pasca Ramadhan

Menurut beberapa ulama, terdapat tiga kelompok orang setelah Ramadhan berakhir: 

Al-Maqbulun: Mereka yang istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan, tanda diterimanya amal ibadah mereka.

Golongan Lalai: Mereka yang rajin ibadah hanya saat Ramadhan, namun kembali maksiat setelahnya.

Golongan Zalim: Mereka yang tidak memuliakan Ramadhan dan justru semakin jauh dari agama setelahnya. 

Bagaimana dengan saya, kamu dan kita ?

[Ambyah]





Tulisan ini dibuat Mode-AI dengan keyword/prompt : pasca ramadhan  dipublikasikan setelah melalui proses editisng.



Jumat, 20 Maret 2026

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan

Baleharjo – Pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung dengan penuh kekhusyukan di Lapangan Manggala Sakti, Kelurahan Baleharjo. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Darussalam Baleharjo ini dihadiri oleh sekitar 1.500 jamaah dari berbagai wilayah tidak hanya sekitar kecamatan kota, tetapi juga luar kecamatan kota.

Sejak pagi hari, masyarakat telah memadati lapangan untuk mengikuti rangkaian ibadah Hari Raya Idul Fitri. Suasana khidmat dan tertib sangat terasa selama pelaksanaan sholat Id berlangsung. Para jamaah tampak mengikuti setiap gerakan dan bacaan dengan penuh kekhusyukan.

Usai pelaksanaan sholat, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian khutbah Idul Fitri. Jamaah mengikuti khutbah dengan baik hingga selesai, mencerminkan semangat kebersamaan dan nilai-nilai religius yang kuat di tengah masyarakat Baleharjo.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan dalam merayakan hari kemenangan.

H. Robbayani yang bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan Sholat Id ini memimpin dengan bacaan yang baik dan merdu. 

Adapun dalam khutbah Idul Fitri kali ini, H Sukatno Abdullah, M. Pd  mengajak jamaah untuk merenungkan kembali makna idul fitri sebagai hari kemenangan kita bersama. Tak sedikit pula jamaah yang meneteskan air mata meresapi seluruh intisari khutbah yang disampaikan. [Tresna]

Sistem Pengendalian Diri dan Integritas Moral Dimulai di Bulan Ramadhan

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Jambu Desa Bagunsari Pacitan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bangunsari berlangsung  khidmat dengan pemanfaatan fasilitas umum yang luas.

Salah satu lokasi utama di Bangunsari Pacitan, adalah Lapangan Jambu. Lapangan ini menjadi titik kumpul sekitar seribuan jemaah untuk melaksanakan sholat di ruang terbuka sesuai sunnah pada tanggal 1 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan 20 Maret 2026.

Jemaah sudah mulai memadati lokasi sejak pukul 06.00 WIB. Gema takbir yang bersahut-sahutan menciptakan suasana yang emosional dan penuh kemenangan. Jemaah tidak hanya dari desa Bangunsari tapi berasal dari desa/kelurahan di sekitar Kota Pacitan, termasuk pemudik yang berasal dari luar kota.

Bertindak sebagai Imam Shalat adalah Ustadz Luqman Hakim (asal Batang Pekalongan) dan Khatib Dr. Ahmadi (Rektor ISIMU Pacitan).

Dengan bacaan imam shalat yang tenang dan fasih membuat seribuan jemaah hening dan khusyuk menyimak di suasana pagi yang menyelimuti sekitar lapangan tempat shalat.

Khatib Doktor Ahmadi menyoroti tentang makna penting mengumandangkan takbir yang kita lantunkan sejak usai maghrib kemarin dan juga hikmah puasa Ramadhan. "Proses membangun sistem pengendalian diri integritas moral. Hikmahnya di luar ramadhan jika masih melaksanakan maksiat, meninggalkan shalat dan lainnya, maka dipertanyakan apa makna ibadah puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadhan?."

Lebin lanjut Ahmadi menyatakan,"Ramadhan adalah momentum menghapus dosa dengan syarat yang berat yaitu dilaksanakan dengan iman dan ikhlas dengan penuh kesadaran, sebagai bekal di bulan-bulan berikutnya."

Melalui ibadah puasa, umat Muslim dilatih untuk mengelola emosi, keinginan, dan perilaku, sekaligus memperkuat kesabaran dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah sholat selesai, jemaah tidak langsung pulang. Mereka melakukan tradisi bersalaman dan saling memaafkan (halal bihalal) di area lapangan sebelum kembali ke rumah masing-masing. [Ambyah].




Kamis, 19 Maret 2026

Lokasi Sholat Idul Fitri 20 Maret 2026

Pelaksanaan sholat Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, dipastikan akan digelar oleh warga Muhammadiyah dan kelompok masyarakat lainnya. Keputusan ini berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada tanggal tersebut. 

Sementara itu, Pemerintah (Kemenag) masih menunggu hasil sidang isbat yang biasanya digelar pada malam sebelumnya (29 Ramadhan), dengan prediksi awal lebaran jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Berikut beberapa titik lokasi yang berhasil dihimpun yang akan dilaksanakan Sholat Idul Fitri tanggal 20 Maret 2026 esuk hari di wilayah Pacitan, jika memang Kementerian Agama dalam Sidang Isbat tentang penetapan tanggal lainnya untuk 1 Syawal 1447 H. antara lain :

1. Lapangan Manggala Sakti - Kelurahan Baleharjo Kec. Pacitan

2. Halaman MI Muhammadiyah Gondang - Desa Pringkuku Kec. Pringkuku. 

3. Halaman Masjid Muhammadiyah Ngadirojo - Desa Wiyoro Kec. Ngadirojo.

4. Masjid Muhammadiyah Tulakan - SMP Muhammadiyah Tulakan Kec. Tulakan.

5. Halaman MI Muhammadiyah Gawang - Desa Gawang Kec. Kebonagung.

6. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sudimoro - Desa Sudimoro Kec. Sudimoro.

7.    Halaman Masjid Baitul Ghofur Desa Ketro - Kec. Kebonagung

8. Lapangan Jambu Desa Bangunsari - Kec. Pacitan.

9. Halaman Masjid ISIMU Desa Sedeng Kec. Pacitan.

10. Masjid Baitus Shomad Tegalombo - Desa/Kec. Tegalombo

11.  Lapangan/Masjid Al Amin Tanjung Mandiri Desa Bangunsari Kec. Bandar.

12.  Masjid Nganjir Desa Penggung Kec. Nawangan.

Secara umum Sholat Idul Fitri akan dimulai pada pukul 06.30 WIB.

Dalam perkembangan berikutnya bisa jadi titik lokasi pelaksanaan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H - 20 Maret 2026 berubah. [Ambyah].


Selasa, 17 Maret 2026

Teks Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M Bahasa Jawa

Penggunaan bahasa Jawa dalam khutbah Idul Fitri, khususnya di wilayah dengan mayoritas penutur bahasa tersebut, memiliki beberapa alasan utama yang berkaitan dengan fungsi khutbah itu sendiri:

Agar Mudah Dipahami (Tabligh): Tujuan utama khutbah adalah menyampaikan pesan keagamaan dan nasihat kepada jemaah. Dengan menggunakan bahasa lokal (bahasa ibu), pesan-pesan tersebut menjadi lebih mudah dimengerti, diresapi, dan diamalkan oleh masyarakat setempat, terutama bagi orang tua atau warga yang kurang fasih berbahasa Indonesia.

Kedekatan Emosional: Bahasa Jawa sering kali dianggap memiliki nilai rasa dan tingkat kesantunan (seperti Krama Inggil) yang mampu menyentuh hati jemaah dengan lebih mendalam. Hal ini menciptakan suasana yang lebih khidmat dan akrab saat merayakan hari kemenangan.

Melestarikan Tradisi (Nguri-uri Budaya): Penggunaan bahasa Jawa dalam khutbah juga menjadi upaya untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal agar tidak luntur.

Efektivitas Dakwah: Dalam kaidah fikih, meskipun rukun khutbah (seperti hamdalah, shalawat, dan wasiat takwa) disunnahkan atau diwajibkan menggunakan bahasa Arab, bagian isi atau nasihat diperbolehkan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah agar tujuan dakwah tercapai. 

Banyak organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah secara rutin menyediakan naskah khutbah dalam bahasa Jawa untuk memfasilitasi kebutuhan dakwah di pelosok desa maupun daerah perkotaan di Jawa. 

Berikut adalah link teks khutbah Idul Fitri yang  bisa diunduh/download :

1. Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul DIY, unduh di sini. 

2. Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo Jatim, unduh di sini.

3. Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, unduh di sini

 [Ambyah]



Khutbah Idulfitri: Korupsi adalah “TBC Modern” yang Harus Dijauhi



السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُوَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا

لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah

Gema takbir tahlil dan tahmid terus berkumandang pada pagi ini. Kita telah melewati madrasah Ramadhan. Kita menahan lapar dahaga dan hawa nafsu selama sebulan penuh. Kini tibalah saatnya kita merayakan Idulfitri. Hari ini kita kembali berbuka. Kata fitr berarti berbuka atau makan yang menandai selesainya kewajiban puasa kita.

Perayaan ini tentu tidak sempurna jika hanya sebatas euforia ritual pribadi. Kita harus mengaitkannya dengan kesalehan sosial. Terdapat tanggung jawab besar bagi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kehidupan bermasyarakat selalu terkait dengan cita-cita mewujudkan masyarakat madani. Masyarakat madani mengandaikan adanya kebaikan di lingkungan pemerintahan. Keberadaan pemerintahan yang baik atau good governance merupakan pilar penting. Istilah ini sekarang lebih disukai daripada clean governance.

Padanan bahasa Arab untuk pemerintahan yang baik mungkin adalah khair. Kita mengenal istilah khairu ummah untuk umat terbaik. Padanan yang pas untuk good governance adalah khairu hukumah. Maknanya adalah pemerintahan yang baik dan mau menjalankan tanggung jawabnya.

Pemerintah mendapat amanat dari rakyat. Mereka memiliki wewenang untuk mengelola kemajemukan. Mereka juga wajib memberikan pelayanan melalui satu sistem hukum. Rakyat memberikan hak penegakan supremasi hukum kepada pemerintah. Negara mempunyai posisi yang sangat sentral dan strategis. Baik buruknya kehidupan berbangsa sangat tergantung dari perilaku penyelenggara negara. Cita-cita masyarakat madani melalui tata kelola yang baik ini amat perlu ditegakkan.

Jamaah yang berbahagia

Negara kita sedang menghadapi masalah mendasar. Kita melihat lemahnya tata kelola pemerintahan yang baik. Manifestasi utamanya adalah merajalelanya korupsi. Penyakit ini menjadi ibu dari segala masalah atau ummul qodloyat. Implikasinya sangat efektif dalam merusak kehidupan masyarakat.

Dampak korupsi ini sangat luar biasa. Korupsi merupakan salah satu problem besar bangsa. Korupsi merusak sendi-sendi perekonomian. Kondisi perekonomian kita masih belum pulih sempurna sejak krisis moneter lampau. Negara-negara tetangga justru telah lama berhasil mengatasi krisis serupa. Korupsi berdampak luas terhadap indeks pembangunan manusia.

Pembangunan terhambat karena kekurangan finansial. Pendidikan semakin mahal akibat minimnya dana negara. Pelayanan kesehatan berkualitas buruk dan sulit dijangkau masyarakat bawah. Akibatnya banyak lembaga menempatkan Indonesia pada deretan teratas negara terkorup di dunia.

Hadirin rahimakumullah

Praktik korupsi sangat merugikan negara. Perbuatan ini mengambil uang negara dan merupakan bentuk pengkhianatan. Wajar jika korupsi dinyatakan sebagai kemunkaran dan dosa besar. Suburnya korupsi di tanah air berakar pada lemahnya landasan kultural.

Mari kita melakukan introspeksi atau muhasabah. Kita harus berani mengatakan bahwa budaya korupsi adalah gejala belum berhasilnya dakwah Islamiah. Fakta menunjukkan sebagian besar pelaku korupsi beragama Islam.

Korupsi dapat disebut sebagai bagian dari penyakit “TBC modern”. Korupsi adalah praktik syirik modern. Pelakunya tidak lagi meyakini Allah sebagai Tuhan. Mereka menjadikan uang sebagai sumber kekuatan hidupnya.

Jamaah Idul Fitri yang dirahmati Allah

Al-Qur’an memberikan ruang luas dalam mengutuk korupsi. Kitab suci ini menyebut korupsi dengan istilah ghulul. Hal ini tercantum dalam Surah Ali Imran ayat 161:

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ اَنْ يَّغُلَّ ۗوَمَنْ يَّغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Tidak layak seorang nabi menyelewengkan (harta rampasan perang). Siapa yang menyelewengkan (-nya), niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang diselewengkannya itu.” (QS. Ali Imran: 161).

Secara harfiah, “ghulul” berarti pengkhianatan terhadap kepercayaan atau amanah. Inti korupsi adalah penyalahgunaan kepercayaan untuk kepentingan pribadi. Al-Qur’an juga mendeskripsikan korupsi dengan kata “al-suht”.

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram (suap/sogok).” (QS Al-Maidah: 42).


Sahabat Ibn Mas’ud mendefinisikan “al-suht”. Beliau menyebutnya sebagai tindakan menjadi perantara dengan menerima imbalan. Perantara ini menghubungkan seseorang dengan penguasa untuk suatu kepentingan. Khalifah Umar bin Khattab memberikan pengertian serupa. Beliau menyatakan al-suht terjadi jika orang berpengaruh menerima imbalan agar penguasa meluluskan keperluan orang lain.

Rasulullah SAW memberikan teladan tegas. Beliau rutin memeriksa para pejabat seusai bertugas. Beliau berupaya menimbulkan efek psikologis agar masyarakat sangat menakuti korupsi. Nabi menolak menyalatkan jenazah koruptor. Koruptor akan masuk neraka meskipun nominal korupsinya kecil. Sedekah dari hasil korupsi tidak akan diterima Allah.

Rasulullah SAW menegaskan laknat bagi para pelaku suap:

لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي

“Laknat Allah untuk penyuap dan penerima suap.”


Nabi SAW juga bersabda tentang ditolaknya amal ibadah koruptor

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Dari Ibn Umar beliau berkata sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw bersabda Tidak diterima salat tanpa wudlu dan sedekah dari hasil korupsi.” (HR. Muslim).

Rasulullah memperingatkan agar koruptor tidak dilindungi atau disembunyikan. Barang siapa melindunginya maka statusnya sama dengan koruptor tersebut.

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ قَالَ أَمَّا بَعْدُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَتَمَ غَالًّا فَإِنَّهُ مِثْلُهُ

“Dari Samurah Ibn Jundub beliau berkata Rasulullah saw bersabda Barangsiapa menyembunyikan koruptor maka dia sama dengannya.” (HR. Abu Dawud dan al-Tabarani).

Hadirin yang dimuliakan Allah

Literatur fikih Islam memuat banyak kajian tentang korupsi. Imam al-Syafi’i melarang keras pejabat menerima hadiah. Terutama jika hadiah itu diberikan agar pemberi mendapat haknya lebih cepat. Beliau juga mengharamkan penerimaan hadiah demi memperoleh sesuatu yang batil. Hadiah juga haram jika bertujuan membebaskan pemberi dari kewajiban.

Ibn Taimiyah menegaskan segala penggunaan uang untuk melumpuhkan hukum adalah korupsi. Meskipun tindakan tersebut tidak langsung merugikan keuangan publik. Beliau mengutip kisah seorang pemuda yang berselingkuh. Ayah pemuda itu memberikan seratus ekor kambing dan pelayan sebagai tebusan. Tujuannya agar kasus tidak diadukan ke pihak berwajib. Rasulullah SAW memutuskan supaya harta dikembalikan dan pelaku tetap dihukum. Tindakan menyuap agar hukum tidak berjalan adalah bentuk nyata korupsi.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang diberkahi Allah

Kita harus menempuh berbagai cara untuk melawan korupsi. Kita perlu menyosialisasikan secara luas bahwa korupsi merupakan dosa besar dan pengkhianatan terhadap negara. Wacana keagamaan antikorupsi harus terus dikembangkan. Langkah ini penting untuk menjelaskan hakikat modus operandi dan dampak buruk korupsi.

Pada hari Idul Fitri ini mari kita bangkit. Kita melangkah dengan sikap mantap tanpa ragu untuk menggulirkan gerakan antikorupsi. Kita memegang teguh prinsip agung Rasulullah SAW:

قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا

Katakanlah yang benar meskipun pahit rasanya. Menyampaikan kebenaran memang sangat baik walaupun terasa pahit.

Semoga ibadah puasa menjadikan kita manusia bertaqwa. Kita harus terus menjauhi kemunkaran besar bernama korupsi. Mari berjuang bersama mewujudkan keadilan demi tegaknya masyarakat madani di negeri tercinta.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sebelum kita mengakhiri rangkaian ibadah ini, marilah kita menundukkan kepala dan merendahkan hati, memohon kepada Allah Yang Maha Mendengar agar bangsa kita diselamatkan dari badai kemunkaran.

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim, Pada hari yang fitri ini, kami memohon perlindungan-Mu. Bersihkanlah hati kami, jiwa kami, dan tangan-tangan kami dari segala bentuk harta yang tidak halal. Jauhkanlah kami dari godaan untuk mengambil yang bukan hak kami, baik dalam skala kecil maupun besar. Tanamkanlah rasa qana’ah, rasa cukup atas rezeki-Mu, agar kami tidak tergolong sebagai orang-orang yang rakus dan melampaui batas.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Adil, Kami memohon kepada-Mu, selamatkanlah negeri kami tercinta, Indonesia, dari wabah korupsi yang merusak sendi-sendi kehidupan bangsa. Gerakkanlah hati para pemimpin kami, para pejabat negeri, dan seluruh penyelenggara negara agar senantiasa mengutamakan amanah rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan. Berikanlah mereka kekuatan iman untuk tetap jujur dan keberanian untuk menolak segala bentuk suap dan kebatilan.

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jadikanlah momentum Idul Fitri ini sebagai awal kebangkitan bagi kami semua untuk membangun budaya kejujuran.


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ

يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ





*Naskah khutbah di atas terinspirasi dari tulisan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar dalam buku Fikih Antikorupsi: Perspektif Ulama Muhammadiyah (2006).


Sumber : https://muhammadiyah.or.id/2026/03/khutbah-idulfitri-korupsi-adalah-tbc-modern-yang-harus-dijauhi/

Sekilas Tentang Zakat Mal (Harta)

Zakat Mal menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah adalah zakat yang dikenakan atas segala jenis harta yang dimiliki secara sah, memenuhi syarat nisab (batas minimum), dan telah mencapai haul (masa kepemilikan satu tahun), kecuali untuk jenis harta tertentu yang ditunaikan saat panen atau diperoleh. 

Berikut adalah poin-poin utama ketentuan Zakat Mal berdasarkan pandangan Muhammadiyah:

1. Syarat Harta Wajib Zakat

Harta yang wajib dizakati harus memenuhi kriteria berikut:

Milik Penuh: Harta tersebut berada di bawah kekuasaan dan kepemilikan penuh secara sah.

Berkembang (An-Numuwu): Harta yang memiliki potensi untuk dikembangkan atau memberikan keuntungan finansial.

Mencapai Nisab: Telah mencapai jumlah minimal tertentu (setara 85 gram emas untuk uang/tabungan).

Mencapai Haul: Telah dimiliki selama satu tahun hijriah (khusus untuk emas, perak, dan perdagangan).

Bebas dari Hutang: Kekayaan yang dihitung adalah kelebihan setelah dikurangi kebutuhan pokok dan hutang yang jatuh tempo. 

2. Jenis Harta dan Kadar Zakat

Muhammadiyah mengelompokkan harta wajib zakat ke dalam beberapa kategori utama:

Uang dan Tabungan: Termasuk simpanan di bank, deposito, dan saham. Kadarnya adalah 2,5% dengan nisab setara 85 gram emas.

Zakat Profesi/Penghasilan: Muhammadiyah mewajibkan zakat atas penghasilan (gaji, honorarium, dll) jika sudah mencapai nisab. Perhitungannya bisa dilakukan setiap bulan atau tahunan dengan kadar 2,5%.

Perdagangan: Dihitung dari modal ditambah keuntungan dan barang yang tersedia, dikurangi hutang. Kadarnya 2,5%.

Pertanian dan Perkebunan: Ditunaikan setiap kali panen. Kadarnya 10% jika menggunakan pengairan alami (hujan) atau 5% jika menggunakan pengairan berbayar (irigasi).

Peternakan: Memiliki aturan khusus berdasarkan jumlah ekor (misal: nisab kambing mulai dari 40 ekor). 

3. Penyaluran (Asnaf)

Zakat harus disalurkan kepada 8 golongan (asnaf) yang disebutkan dalam Al-Qur'an (At-Taubah: 60). Namun, Tarjih Muhammadiyah menekankan aspek produktif dan pengembangan dalam pengelolaannya melalui lembaga resmi seperti Lazismu untuk pemberdayaan ekonomi umat, pendidikan, dan kesehatan. 

Penting: Zakat mal tidak boleh diberikan kepada orang yang wajib dinafkahi secara langsung, seperti orang tua kandung, anak kandung, atau pasangan. 

Apakah Anda ingin menghitung simulasi zakat profesi atau zakat tabungan berdasarkan pendapatan saat ini? Hubungi Lazismu di wilayah Bapak/Ibu..... [Ambyah]






Untuk Siapa Zakat Fitrah?

 


Menurut pandangan Muhammadiyah, zakat fitrah (atau zakat fitri) diprioritaskan dan diutamakan untuk golongan fakir dan miskin

Tujuan utama dari pengutamaan ini adalah untuk mensucikan orang yang berpuasa dan sebagai bentuk santunan makanan agar fakir miskin dapat merasakan kebahagiaan di hari raya Idulfitri. 

Berikut adalah poin-poin penting mengenai penerima zakat fitrah menurut Muhammadiyah:

1. Prioritas Utama: Fakir dan Miskin 

Berdasarkan hadis Rasulullah SAW, zakat fitrah secara khusus disebut sebagai "makanan bagi orang-orang miskin" (thu'matan lil-masakin). Oleh karena itu, Muhammadiyah menekankan agar distribusi zakat fitrah difokuskan kepada mereka yang membutuhkan di daerah setempat. 

2. Hubungan dengan 8 Asnaf

Meskipun secara umum zakat dapat disalurkan kepada 8 golongan (asnaf) menurut QS. At-Taubah: 60 (fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharim, fisabilillah, dan ibnu sabil), untuk zakat fitrah, Muhammadiyah tetap memberikan penekanan khusus pada fakir dan miskin. 

Amil (Panitia): Muhammadiyah juga menyatakan bahwa amil atau panitia zakat yang bekerja mengelola zakat fitrah berhak mendapatkan bagian sebagai imbalan atas tugas mereka.

Fisabilillah: Dalam konteks kontemporer, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih juga memperluas makna fisabilillah untuk kepentingan dakwah dan kemaslahatan umat. 

3. Ketentuan Distribusi

Waktu Penyajian: Distribusi zakat fitrah tidak harus habis sebelum salat Idulfitri. Putusan Tarjih Muhammadiyah membolehkan amil mendistribusikan zakat fitrah sepanjang tahun untuk memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan bagi penerimanya.

Bentuk Zakat: Zakat fitrah dapat diberikan dalam bentuk makanan pokok (beras seberat 2,5 kg atau 3,5 liter) atau berupa uang yang senilai dengan harga makanan pokok tersebut. 

Bagaimana jika membayar zakat fitrah lebih dari yang ditentukan? Hukumnya diperbolehkan dan sangat dianjurkan. Menurut mayoritas ulama, hukumnya diperbolehkan dan sangat dianjurkan, kelebihan tersebut tidak hangus, melainkan dihitung sebagai sedekah sunnah yang bernilai pahala.

Tahun 1447 H/2026 H untuk zakat fitrah jika menggunakan uang diberikan contoh alternatif besarannya senilai : Rp. 30.000,- Rp. 35.000,- Rp. 40.000,- dan seterusnya, sesuai dengan harga beras yang dikonsumsi sehari-hari muzakki.


آجَرَكَ اللَّهُ فِيْمَا أعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُورًا وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ



[Ambyah]

Senin, 16 Maret 2026


Layanan di Kantor LAZISMU Pacitan

Layanan penerimaan ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah) di kantor Lazismu (Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah) dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan kewajiban agama secara transparan dan profesional. 

Layanan utama yang tersedia di kantor layanan Lazismu Pacitan yang beralamat di Jl. Cokroaminoto no. 15 meliputi:

Konsultasi Zakat: Layanan tatap muka atau melalui tim layanan untuk membantu masyarakat memahami hukum zakat, cara perhitungan, serta jenis-jenis harta yang wajib dizakatkan.

Kalkulator Zakat: Fasilitas untuk membantu muzakki (pembayar zakat) menghitung nominal zakat mal, zakat penghasilan, atau zakat profesi secara akurat sesuai ketentuan syariat.

Layanan Pembayaran Langsung: Penerimaan dana ZIS, fidyah, kurban, dan dana sosial keagamaan lainnya secara tunai maupun nontunai (kartu debit/transfer) di kantor layanan terdekat.

Penerbitan Bukti Setor: Setiap transaksi penerimaan akan disertai dengan bukti setoran resmi yang dapat digunakan sebagai bukti pengurangan penghasilan kena pajak bagi muzakki.

Layanan Jemput Zakat: Di  Lazismu Pacitan menyediakan petugas yang dapat datang langsung ke lokasi donatur untuk menjemput dana ZIS guna kenyamanan lebih, layanan ini sebaiknya dilakukan dengan perjanjian terlebih dahulu. 

Metode Pembayaran Lainnya

Selain datang langsung ke kantor, Lazismu juga menyediakan kanal digital: 

Aplikasi Mobile: Fitur pembayaran ZIS melalui aplikasi QRIS, lebih lanjut dapat ditelusuri kemudahan melakukan transaksi ZIS melalui : https://lazismupacitan.org atau :  https://www.jotform.com/app/240098546053457

Transfer Bank: Rekening khusus pada bank syariah (BSI dan Bank Jatim Syariah) atas nama Lazismu untuk mempermudah transaksi jarak jauh. 

Lazismu Pacitan memiliki struktur jaringan yang luas terutama dengan adanya media sosial dan Kantor Layanan Lazismu yang mudah dijangkau untuk memastikan dana ZIS tersalurkan secara efektif kepada para mustahik. 



LAZISMU KAB. PACITAN:

🏬 Office : Jl. HOS Cokroaminoto No. 15 Kauman 63512 Pacitan.

Nomor Rekening Bank BSI sebagai berikut :

1. Zakat : 7258646015

2. Infaq : 7258646287

3. Kemanusiaan: 7788812137

(Semua a/n Lazismu Kabupaten Pacitan)

■Info&Konfirmasi Via WhatsApp:

📞 0853-3536-6070