Minggu, 05 April 2026

Miqat Zamani Dalam Rencana Perjalanan Haji

 

Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Pacitan telah merilis Rencana Perjalanan Haji dari Kabupaten Pacitan yang dijadwalkan akan diberangkatkan masuk Asrama Haji tanggal 27 April 2026 mendatang.

Sebelum  calon jemaah haji diberangkatkan sebagaimana jadwal yang ditentukan perlu kiranya memahami manasik haji secara mandiri, salah satunya adalah memahami tentang makna miqat zamani.   

Menurut pandangan Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, miqat zamani bagi calon jemaah haji yang masih berada di tanah air memiliki makna sebagai batas waktu awal yang sah untuk memulai niat ihram haji.

Bagi calon jemaah yang belum berangkat, pemahaman mengenai miqat zamani sangat penting untuk memastikan keabsahan ibadah haji mereka dari sisi waktu. Berikut adalah poin-poin penting maknanya: 

1. Batas Waktu Pelaksanaan Haji 

Miqat zamani adalah rentang waktu yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 197) sebagai musim haji. Menurut putusan Tarjih Muhammadiyah, waktu ini meliputi: 

Awal: Dimulai sejak tanggal 1 Syawal.

Akhir: Hingga terbit fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah (Hari Raya Idul Adha). 

2. Keabsahan Niat Ihram

Bagi calon jemaah yang belum berangkat, makna praktisnya adalah dilarang memulai niat ihram haji sebelum masuknya bulan Syawal. Jika seseorang berniat ihram haji di luar rentang waktu tersebut (misalnya di bulan Ramadhan), maka menurut pandangan mayoritas ulama yang diikuti dalam tuntunan manasik umum, niat tersebut tidak sah sebagai haji dan hanya terhitung sebagai ibadah umrah. 

3. Persiapan Mental dan Spiritual

Karena jemaah Indonesia biasanya berangkat dalam beberapa gelombang, pemahaman miqat zamani berfungsi sebagai pengingat bahwa meskipun persiapan fisik dilakukan jauh-jauh hari di tanah air, status hukum sebagai orang yang berhaji baru dimulai secara resmi saat mereka mengenakan ihram dan berniat di dalam rentang waktu tersebut. 

4. Kedisiplinan Beribadah

Secara filosofis, miqat zamani mengajarkan calon jemaah tentang kedisiplinan dan ketundukan pada aturan waktu yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Hal ini menjadi bekal spiritual bagi calon jemaah yang masih menunggu jadwal keberangkatan agar tetap sabar dan mengikuti prosedur yang telah diatur, baik secara syar'i maupun regulasi pemerintah. 

[Ambyah]













Sumber tulisan : klik di sini.

0 comments:

Posting Komentar