Sebuah Web Literasi Dakwah Berkemajuan

Bagian dari Dakwah Muhammadiyah Berkemajuan di Pacitan .

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jemput Zakat

Pelayanan untuk Muzakki.

Minggu, 22 Maret 2026

Pesan Pasca Ramadhan

 

Masa pasca Ramadhan adalah periode krusial bagi umat Muslim untuk menjaga keberlanjutan ibadah dan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama sebulan penuh. Fokus utamanya adalah istiqamah (konsistensi) agar Ramadhan tidak hanya menjadi ritual tahunan, melainkan awal transformasi diri yang lebih baik. 

Berikut adalah poin-poin penting untuk menjaga semangat ibadah pasca Ramadhan:

1. Amalan Sunnah yang Dianjurkan 

Puasa Syawal: Melaksanakan puasa sunnah selama 6 hari di bulan Syawal memiliki keutamaan seperti berpuasa setahun penuh dan berfungsi menyempurnakan kekurangan selama puasa wajib.

Melanjutkan Puasa Sunnah Lainnya: Membiasakan kembali puasa Senin-Kamis atau puasa Arafah untuk menjaga ritme ibadah.

Tilawah Al-Qur'an: Menjaga rutinitas membaca dan mentadabburi Al-Qur'an, meskipun intensitasnya tidak setinggi saat bulan Ramadhan. 

2. Evaluasi dan Transformasi Diri

Evaluasi Kualitas Ibadah: Meninjau kembali pengendalian diri, kedermawanan sosial, dan manajemen waktu yang telah dipraktikkan.

Merawat Ketakwaan: Memastikan bahwa kebiasaan baik seperti shalat tepat waktu dan berbagi kepada sesama tetap berlanjut sebagai wujud kemenangan yang sesungguhnya.

Menjadi Muslim Berdampak: Membawa nilai-nilai kesalehan individu ke ranah sosial agar bermanfaat bagi masyarakat luas. 

3. Klasifikasi Golongan Pasca Ramadhan

Menurut beberapa ulama, terdapat tiga kelompok orang setelah Ramadhan berakhir: 

Al-Maqbulun: Mereka yang istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan, tanda diterimanya amal ibadah mereka.

Golongan Lalai: Mereka yang rajin ibadah hanya saat Ramadhan, namun kembali maksiat setelahnya.

Golongan Zalim: Mereka yang tidak memuliakan Ramadhan dan justru semakin jauh dari agama setelahnya. 

Bagaimana dengan saya, kamu dan kita ?

[Ambyah]





Tulisan ini dibuat Mode-AI dengan keyword/prompt : pasca ramadhan  dipublikasikan setelah melalui proses editisng.



Jumat, 20 Maret 2026

Merenungkan Kembali Makna Idul Fitri Sebagai Hari Kemenangan

Baleharjo – Pelaksanaan Sholat Idul Fitri berlangsung dengan penuh kekhusyukan di Lapangan Manggala Sakti, Kelurahan Baleharjo. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid Darussalam Baleharjo ini dihadiri oleh sekitar 1.500 jamaah dari berbagai wilayah tidak hanya sekitar kecamatan kota, tetapi juga luar kecamatan kota.

Sejak pagi hari, masyarakat telah memadati lapangan untuk mengikuti rangkaian ibadah Hari Raya Idul Fitri. Suasana khidmat dan tertib sangat terasa selama pelaksanaan sholat Id berlangsung. Para jamaah tampak mengikuti setiap gerakan dan bacaan dengan penuh kekhusyukan.

Usai pelaksanaan sholat, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian khutbah Idul Fitri. Jamaah mengikuti khutbah dengan baik hingga selesai, mencerminkan semangat kebersamaan dan nilai-nilai religius yang kuat di tengah masyarakat Baleharjo.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga, sekaligus memperkuat rasa persaudaraan dalam merayakan hari kemenangan.

H. Robbayani yang bertindak sebagai imam dalam pelaksanaan Sholat Id ini memimpin dengan bacaan yang baik dan merdu. 

Adapun dalam khutbah Idul Fitri kali ini, H Sukatno Abdullah, M. Pd  mengajak jamaah untuk merenungkan kembali makna idul fitri sebagai hari kemenangan kita bersama. Tak sedikit pula jamaah yang meneteskan air mata meresapi seluruh intisari khutbah yang disampaikan. [Tresna]

Sistem Pengendalian Diri dan Integritas Moral Dimulai di Bulan Ramadhan

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri di Lapangan Jambu Desa Bagunsari Pacitan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bangunsari berlangsung  khidmat dengan pemanfaatan fasilitas umum yang luas.

Salah satu lokasi utama di Bangunsari Pacitan, adalah Lapangan Jambu. Lapangan ini menjadi titik kumpul sekitar seribuan jemaah untuk melaksanakan sholat di ruang terbuka sesuai sunnah pada tanggal 1 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan 20 Maret 2026.

Jemaah sudah mulai memadati lokasi sejak pukul 06.00 WIB. Gema takbir yang bersahut-sahutan menciptakan suasana yang emosional dan penuh kemenangan. Jemaah tidak hanya dari desa Bangunsari tapi berasal dari desa/kelurahan di sekitar Kota Pacitan, termasuk pemudik yang berasal dari luar kota.

Bertindak sebagai Imam Shalat adalah Ustadz Luqman Hakim (asal Batang Pekalongan) dan Khatib Dr. Ahmadi (Rektor ISIMU Pacitan).

Dengan bacaan imam shalat yang tenang dan fasih membuat seribuan jemaah hening dan khusyuk menyimak di suasana pagi yang menyelimuti sekitar lapangan tempat shalat.

Khatib Doktor Ahmadi menyoroti tentang makna penting mengumandangkan takbir yang kita lantunkan sejak usai maghrib kemarin dan juga hikmah puasa Ramadhan. "Proses membangun sistem pengendalian diri integritas moral. Hikmahnya di luar ramadhan jika masih melaksanakan maksiat, meninggalkan shalat dan lainnya, maka dipertanyakan apa makna ibadah puasa yang dilaksanakan di bulan Ramadhan?."

Lebin lanjut Ahmadi menyatakan,"Ramadhan adalah momentum menghapus dosa dengan syarat yang berat yaitu dilaksanakan dengan iman dan ikhlas dengan penuh kesadaran, sebagai bekal di bulan-bulan berikutnya."

Melalui ibadah puasa, umat Muslim dilatih untuk mengelola emosi, keinginan, dan perilaku, sekaligus memperkuat kesabaran dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah sholat selesai, jemaah tidak langsung pulang. Mereka melakukan tradisi bersalaman dan saling memaafkan (halal bihalal) di area lapangan sebelum kembali ke rumah masing-masing. [Ambyah].




Kamis, 19 Maret 2026

Lokasi Sholat Idul Fitri 20 Maret 2026

Pelaksanaan sholat Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, dipastikan akan digelar oleh warga Muhammadiyah dan kelompok masyarakat lainnya. Keputusan ini berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada tanggal tersebut. 

Sementara itu, Pemerintah (Kemenag) masih menunggu hasil sidang isbat yang biasanya digelar pada malam sebelumnya (29 Ramadhan), dengan prediksi awal lebaran jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Berikut beberapa titik lokasi yang berhasil dihimpun yang akan dilaksanakan Sholat Idul Fitri tanggal 20 Maret 2026 esuk hari di wilayah Pacitan, jika memang Kementerian Agama dalam Sidang Isbat tentang penetapan tanggal lainnya untuk 1 Syawal 1447 H. antara lain :

1. Lapangan Manggala Sakti - Kelurahan Baleharjo Kec. Pacitan

2. Halaman MI Muhammadiyah Gondang - Desa Pringkuku Kec. Pringkuku. 

3. Halaman Masjid Muhammadiyah Ngadirojo - Desa Wiyoro Kec. Ngadirojo.

4. Masjid Muhammadiyah Tulakan - SMP Muhammadiyah Tulakan Kec. Tulakan.

5. Halaman MI Muhammadiyah Gawang - Desa Gawang Kec. Kebonagung.

6. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sudimoro - Desa Sudimoro Kec. Sudimoro.

7.    Halaman Masjid Baitul Ghofur Desa Ketro - Kec. Kebonagung

8. Lapangan Jambu Desa Bangunsari - Kec. Pacitan.

9. Halaman Masjid ISIMU Desa Sedeng Kec. Pacitan.

10. Masjid Baitus Shomad Tegalombo - Desa/Kec. Tegalombo

11.  Lapangan/Masjid Al Amin Tanjung Mandiri Desa Bangunsari Kec. Bandar.

12.  Masjid Nganjir Desa Penggung Kec. Nawangan.

Secara umum Sholat Idul Fitri akan dimulai pada pukul 06.30 WIB.

Dalam perkembangan berikutnya bisa jadi titik lokasi pelaksanaan sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H - 20 Maret 2026 berubah. [Ambyah].


Selasa, 17 Maret 2026

Teks Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M Bahasa Jawa

Penggunaan bahasa Jawa dalam khutbah Idul Fitri, khususnya di wilayah dengan mayoritas penutur bahasa tersebut, memiliki beberapa alasan utama yang berkaitan dengan fungsi khutbah itu sendiri:

Agar Mudah Dipahami (Tabligh): Tujuan utama khutbah adalah menyampaikan pesan keagamaan dan nasihat kepada jemaah. Dengan menggunakan bahasa lokal (bahasa ibu), pesan-pesan tersebut menjadi lebih mudah dimengerti, diresapi, dan diamalkan oleh masyarakat setempat, terutama bagi orang tua atau warga yang kurang fasih berbahasa Indonesia.

Kedekatan Emosional: Bahasa Jawa sering kali dianggap memiliki nilai rasa dan tingkat kesantunan (seperti Krama Inggil) yang mampu menyentuh hati jemaah dengan lebih mendalam. Hal ini menciptakan suasana yang lebih khidmat dan akrab saat merayakan hari kemenangan.

Melestarikan Tradisi (Nguri-uri Budaya): Penggunaan bahasa Jawa dalam khutbah juga menjadi upaya untuk menjaga dan melestarikan kekayaan budaya lokal agar tidak luntur.

Efektivitas Dakwah: Dalam kaidah fikih, meskipun rukun khutbah (seperti hamdalah, shalawat, dan wasiat takwa) disunnahkan atau diwajibkan menggunakan bahasa Arab, bagian isi atau nasihat diperbolehkan menggunakan bahasa yang dipahami oleh jemaah agar tujuan dakwah tercapai. 

Banyak organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah secara rutin menyediakan naskah khutbah dalam bahasa Jawa untuk memfasilitasi kebutuhan dakwah di pelosok desa maupun daerah perkotaan di Jawa. 

Berikut adalah link teks khutbah Idul Fitri yang  bisa diunduh/download :

1. Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Bantul DIY, unduh di sini. 

2. Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Ponorogo Jatim, unduh di sini.

3. Lembaga Dakwah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, unduh di sini

 [Ambyah]