Kader Muhammadiyah Raih Kalpataru 2026, Gerakan Sedekah Sampah Berbasis Masjid Diakui Nasional



MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Kader Muhammadiyah sekaligus Staff Personalia, Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Ananto Isworo, resmi ditetapkan sebagai salah satu penerima Penghargaan Kalpataru 2026.


Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan pemerintah kepada individu maupun kelompok yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Penghargaan ini diberikan kepada para pejuang lingkungan yang secara konsisten melakukan aksi penyelamatan, pelestarian, serta pemberdayaan masyarakat di bidang lingkungan hidup setidaknya selama lima tahun.


Penganugerahan Kalpataru diselenggarakan setiap tahun bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Penghargaan ini mencakup sejumlah kategori, yakni Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, Penyelamat Lingkungan, Pembina Lingkungan, serta kategori baru Kalpataru Yuvan yang ditujukan bagi generasi muda.


Dalam wawancara daring pada Kamis (11/6), Ananto menyampaikan bahwa pada tahun 2026 terdapat 16 penerima Kalpataru yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia menerima penghargaan tersebut berkat kiprahnya merintis Gerakan Sedekah Sampah berbasis Eko Masjid yang telah dijalankan sejak tahun 2013.


Menurut Ananto, gerakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak hanya dapat diselesaikan melalui pendekatan teknis, tetapi juga melalui pendekatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat berbasis rumah ibadah.


“Ini saya kira menjadi poin penting bahwa pendekatan penanganan sampah bisa dilakukan melalui pendekatan agama dan berbasis rumah ibadah. Gerakan ini juga telah direplikasi oleh ratusan komunitas. Di Bantul sendiri ada kurang lebih 532 komunitas, kemudian menyebar hingga ke ratusan masjid dan rumah ibadah. Jika dihitung, jumlahnya mencapai sekitar 300 masjid di seluruh Indonesia,” jelas Ananto.


Sebagai kader Muhammadiyah yang aktif di bidang dakwah dan lingkungan hidup, Ananto menaruh harapan besar agar isu lingkungan mendapat perhatian yang lebih luas dan menjadi bagian integral dari gerakan Persyarikatan.


Ia berharap Muhammadiyah dapat memanfaatkan jaringan ribuan masjid, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, serta berbagai amal usaha yang dimiliki untuk memperkuat budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat.


“Saya berharap kita di Muhammadiyah bisa bersama-sama melalui ribuan rumah ibadah dan amal usahanya untuk membawa isu lingkungan ini menjadi sebuah habit, bukan sekadar seremonial untuk meraih penghargaan lingkungan. Tetapi betul-betul menjadi kurikulum pokok di Muhammadiyah sehingga peserta didik dan warga Muhammadiyah memiliki ciri khas dan visi bersama untuk mewujudkan keadilan lingkungan,” ujarnya.


Selain itu, Ananto juga mendorong pemanfaatan aset Persyarikatan secara lebih produktif guna mendukung gerakan pelestarian lingkungan. Salah satunya melalui optimalisasi tanah wakaf untuk mendukung inisiasi program Wakaf Hutan Muhammadiyah.


“Hal itu tentu bisa digunakan secara produktif. Misalnya menjadi kebun bibit dan buah Muhammadiyah, menjadi hutan mini Muhammadiyah, dan lain sebagainya. Dengan demikian akan memberikan dampak terhadap keadilan iklim, mengurangi panas, menyerap emisi karbon, serta menghasilkan oksigen bagi kehidupan,” tuturnya.


Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya dukungan kebijakan dan kepemimpinan di lingkungan Persyarikatan agar gerakan penyelamatan lingkungan dapat berjalan secara lebih masif, terstruktur, dan berkelanjutan. Menurutnya, pimpinan Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya kebijakan dan instruksi yang mampu menggerakkan seluruh amal usaha untuk turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.


Di samping itu, Ananto melihat transisi menuju energi bersih sebagai peluang besar yang dapat diimplementasikan di berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.


“Sangat besar potensinya. Ini bisa dilakukan oleh rumah sakit, perguruan tinggi, misalnya melalui penggunaan lampu tenaga surya untuk taman dan jalan lingkungan, maupun pemanfaatan panel surya untuk kebutuhan energi lainnya. Muhammadiyah sebenarnya sudah memiliki konsep 1000 Cahaya. Tinggal bagaimana memperbanyak dan mereplikasi gerakan itu di seluruh lini yang potensial,” pungkas Ananto. (Bhisma)


Sumber berita : https://muhammadiyah.or.id/2026/06/kader-muhammadiyah-raih-kalpataru-2026-gerakan-sedekah-sampah-berbasis-masjid-diakui-nasional/

Program Indonesia Siaga Lazismu Hadir di Lokasi Kebakaran Desa Glinggangan Kecamatan Pringkuku


 Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) Pacitan kembali menunjukkan kepedulian dan komitmennya dalam membantu sesama yang mengalami bencana/musibah melalui Program Indonesia Siaga.

 

 

Kali ini, Lazismu Pacitan menyalurkan bantuan tunai kepada keluarga Siswanto yang rumahnya luluh lantak terbakar, di RT 02 RW 07 Dusun Blimbing Desa Glinggangan Kecamatan Pringkuku pada Ahad/Minggu (31/5).

 

Peristiwa kebakaran yang terjadi pada Sabtu (30/5/2026) siang sekira pukul 11.30, menyebabkan rumah iSiswanto mengalami kerusakan parah, sumber api diduga berasal dari korsleting listrik yang cepat membakar rangka atap rumah yang terbuat dari kayu.

 

 

Akibat kejadian ini, kap/atap rumah induk, barang-barang berharga, dan dokumen/sertifikat penting lainnya hangus terbakar, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

 

Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial, Lazismu Pacitan melalui program Indonesia Siaga, bergerak menyalurkan bantuan berupa dana tunai guna meringankan beban korban. 

 

Bantuan diserahkan oleh Ketua Lazismu Pacitan, Agus Hadi Prabowo, dan diterima langsung oleh Siswanto, yang kebetulan sebagai Perangkat Desa, Desa Glinggangan Kec. Pringkuku.

 

“Lazismu  hadir bukan hanya dalam kondisi normal, tetapi juga dalam situasi bencana dan darurat. Ini adalah bentuk nyata dari gotong royong dan kepedulian umat. Semoga bantuan ini dapat membantu keluarga Mas Siswanto untuk kembali bangkit dan menjalani hari-hari ke depan dengan lebih ringan,” ujar Agus Hadi Prabowo saat penyerahan bantuan.

 

Bantuan tersebut merupakan hasil sinergi antara para donatur, simpatisan, dan warga Muhammadiyah yang menyalurkan zakat, infaq, dan sedekahnya melalui Lazismu Pacitan. 

 

Dalam kesempatan itu, Agus Hadi Prabowo  juga mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan semangat kepedulian dan berbagi dalam menghadapi bencana/musibah yang menimpa saudara-saudara kita.

 

“Kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi para muzakki dan munfiq yang ingin ikut serta membantu para korban bencana melalui Lazismu. Donasi dapat disalurkan melalui rekening resmi Lazismu Pacitan atau datang langsung ke kantor layanan kami,” tambahnya.

 

Dengan mengusung semangat “Memberi untuk Negeri”, Lazismu Pacitan terus berkomitmen menjadi garda terdepan dalam pelayanan sosial kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat. 

 

Tidak hanya saat terjadi bencana, namun juga dalam berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi umat.

[Ambyah]

 

Lazismu Pacitan

Bank BSI

Nomor Rekening Zakat : 7258646015

Nomor Rekening Infaq : 7258646287

Nomor Rekening Kemanusiaan : 7788812137

Konfirmasi Transfer : 085335366070 / 082131311345

Alamat : Jl. Cokroaminoto no. 15 Pacitan

https://lazismupacitan.org 

Lembaga Amil Zakat (LAZ) Dalam Penanggulangan Bencana di Pacitan



Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah rawan terjadinya bencana. 

Secara geografis pesisir Kabupaten Pacitan terletak di zona pertemuan atau tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia yang terus bergerak aktif. 


Akibat pergerakan lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia tersebut berpotensi terjadinya gempa, dan tsunami di kawasan pesisir pulau Jawa bagian selatan termasuk  wilayah Kabupaten Pacitan. 


Belum lagi bencana yang diakibatkan - bisa jadi - akibat aktivitas manusia sendiri dan juga perubahan iklim ekstrim yang mengakibatkan banjir ataupun tanah longsor, sebagaimana terjadi pada tahun 2017/2018 lalu. 


Update, adalah ancaman kekeringan tahun 2026 di Indonesia dipicu oleh fenomena iklim El Niño yang berpotensi menguat pada paruh kedua tahun ini. 


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada rentang Juli hingga September 2026, dengan kondisi yang jauh lebih kering dibandingkan tahun-tahun normal.

 

Pemerintah Kabupaten Pacitan memiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertugas, antara lain melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang penanggulangan bencana, yang mencakup tiga fase utama: pencegahan (pra-bencana), penanganan darurat (saat bencana), dan rehabilitasi serta rekonstruksi (pasca-bencana).. 


Di luar BPBD milik pemerintah daerah tersebut, terdapat pula lembaga/organisasi penanggulangan bencana non-pemerintah berbasis keagamaan (dan lembaga filantropi lain) yang juga terjun ke lapangan setiap kali terjadi bencana.


Secara operasional lembaga/organisasi non-pemerintah tersebut berasal dari organisasi masyarakat dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang berbasis keagamaan juga filantropi lainnya. 


Lembaga penanggulangan bencana yang berbasis organisasi keagamaan mendapatkan dana operasional dari bagian zakat dan/atau infaq.  


Sebagai contoh, MDMC sebagai lembaga penanggulangan bencana milik Muhammadiyah berkolaborasi dengan LAZISMU (Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah) yang bertugas sebagai fundraiser. 


Sebagai fundraiser LAZISMU menghimpun dana zakat, ataupun infaq (muqayyad) dari masyarakat untuk digunakan menyangkut kepentingan masyarakat yang terdampak bencana, secara kelembagaan keberadaan Lazismu adalah sah sesuai UU Nomor 23 Tahun 2011. 


Hal ini menunjukan bahwa umat Islam melalui dana zakat ataupun infaq berkontribusi aktif dalam proses tanggap darurat bencana hingga rehabilitasi dan rekonstruksi akibat bencana. 


Bisa jadi, organisasi masyarakat berbasis keagamaan yang lain memiliki pola yang sama,  kolaborasi MDMC dan Lazismu sebagaimana dilakukan oleh Muhammadiyah.


Khusus, dalam ashnaf, tidak disebutkan secara eksplisit bahwa korban dampak bencana berhak menerima zakat sehingga penyaluran dana zakat untuk operasional penanggulangan bencana cukup hati-hati dan selektif sebagaimana Fatwa MUI. 


Hal ini juga menunjukan bahwa bagian pelaksanaan ajaran agama mempunyai kontribusi nyata bagi kemanusiaan di dunia nyata,  di tengah-tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sulit.


Dalam penerapan di lapangan - dalam kasus tertentu - di masa-masa tanggap darurat ataupun  kondisi ancaman bencana dan kesulitan di masyarakat,  informasi/data dan arahan BPBD sangatlah penting sehingga program dari masing-masing lembaga non-pemerintah tersebut tepat sasaran, tepat jumlah sesuai kondisi di lapangan.


Sungguh sangat tidak elok, membandingkan kekuatan SDM dan finansial operasional antara BPBD dengan lembaga penanggulangan bencana di bawah ormas keagamaan (juga dunia usaha, dan lembaga filantropi lainnya) namun koordinasi dan kolaborasi semua pihak (pentahelix) sangat diperlukan memberi untuk negeri. [AHP]

 

Penulis, Agus Hadi Prabowo, saat ini adalah Ketua Badan Pengurus Lazismu Daerah Pacitan.

 


 

Pelatihan Penanggulangan Bencana, Apakah Perlu?


Di awal awal bulan tanggal 2-4 Juni 2026, TNI Angkatan Laut  menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam, kegiatan berlangsung di area Pantai Pancer Door Pacitan, sebagai salah satu kegiatan pembinaan potensi maritim.

Kegiatan ini melibatkan TNI/Polri, Basarnas, BPBD, Pemda, ORARI dan unsur masyarakat lainnya, tidak kurang dari 200 personil terlibat langsung dalam kegiatan ini.

Begitu banyaknya unsur yang terlibat dalam kegiatan timbul pertanyaan : “Seberapa penting pelatihan penanggulangan bencana atau seringkali dikenal dengan istilah Emergency drill  diadakan ??”

Berikut adalah catatan Agus Hadi Prabowo  (Callsign YB3HQM) – Ketua ORARI Lokal Pacitan, yang mengamati dan terlibat langsung selama kegiatan Pelatihan Penanggulangan Bencana Alam yang diselenggarakan TNI AL tersebut. 

Dalam kegiatan pelatihan penanggulangan bencana alam ini dalam prakteknya adalah simulasi penanggulangan bencana alam.

Pertama, Pertama, dalam pelaksanaan simulasi yang dilakukan, ada upaya menerapkan asas dan prinsip penanggulangan bencana sebagaimana disebutkan dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Asas penanggulangan bencana adalah : 
a. kemanusiaan;
b. keadilan;
c. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
d. keseimbangan, keselarasan, dan keserasian;
e. ketertiban dan kepastian hukum;
f. kebersamaan;
g. kelestarian lingkungan hidup; dan
h. ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sedangkan prinsip penanggulangan bencana adalah :

a. cepat dan tepat;
b. prioritas;

c. koordinasi dan keterpaduan;
d. berdaya guna dan berhasil guna;
e. transparansi dan akuntabilitas;
f. kemitraan;
g. pemberdayaan;
h. nondiskriminatif; dan
i. nonproletisi.

Kedua, kegiatan simulasi penanggulangan bencana alam khususnya gempa bumi dan tsunami atau emergency drill, sangat direkomendasikan dilakukan secara berkelanjutan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

Jika selama ini penyelenggara kegiatan simulasi penanggulangan bencana ataupun kegiatan pengurangan risiko bencana  adalah dari pemerintah daerah/BPBD, dan TNI/Polri, maka kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana seharusnya bisa dilakukan oleh masyarakat  secara mandiri, dan ini perlu disosialisasikan.

     Ketiga, Kegiatan emergency drill atau simulasi penanggulangan bencana alama (gempa dan tsunami) ada beberapa perlu diperhatikan :

              Skenario emergency drill yang realistis dan relevan

Titik berat simulasi adalah penanggulangan bencana alam gempa dan tsunami, maka yang dilibatkan ya personil yang di darat (Dinas Kesehatan, PMI, Dishub, dll) dan perairan (TNI AL, Kamladu, Basarnas, dll) dengan segala ketrampilan dan peralatan yang dimiliki.

Komunikasi yang Jelas

Adanya panduan/skenario, urutan kegiatan sebelum, selama, dan setelah emergency drill. Hal ini memberi informasi bahwa latihan sedang berlangsung, skenarionya, dan apa yang diharapkan dari mereka.

Melibatkan semua pihak

Penanggulangan bencana untuk pengurangan risikonya adalah tanggung jawab bersama. Sangat disayangkan jika ada pihak-pihak yang tidak merespon positif emergency drill yang diselenggarakan oleh TNI AL, lepas dari alasan sibuk, tidak sempat mewakilkan, dan lainnya.

Seharusnya pemangku kepentingan di daerah hendaknya berpartisipasi dalam latihan untuk memastikan memahami prosedur tanggap darurat/emergency, sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.

Peran yang ditunjuk dalam skenario

Untuk menetapkan suatu daerah dinyatakan bencana ada kejadian-kejadian yang mendahului, misalnya adanya gempa yang dirasakan, laporan akibat gempa, informasi dari BNPB/BMKG dan seterusnya sampai diadakannya forum rapat Forkompimda dan diterbitkannya  Surat Keputusan Bupati yang menyatakan adanya tanggap darurat bencana.

Dari semua rangkaian itu ditetapkan dan ditunjuk pemeran sebagaimana skenario yang ada.

Adanya briefing ulang dan perbaikan skenario

Pada hari ketiga (4 Juni) dilaksanakan simulasi dua kali. Latihan pertama tidak sampai selesai dihentikan karena ada feed-back perbaikan skenario.

Setelah ada perbaikan dan feed-back latihan simulasi tanggap darurat pada akhirnya dilaksankan sampai selesai sebagaimana skenario yang ada.       

         

     Keempat, kegiatan emergency drill yang diselenggarakan oleh TNI AL tersebut ada beberapa saran untuk kita semua :

a.  Momentum Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) yang diperingati setiap tanggal 26 April menjadi motivasi bagi masyarakat secara umum untuk lebih memperharikan pengurangan risiko bencana secara mandiri, mengingat wilayah Kabupaten Pacitan adalah bagaikan etalasi potensi risiko bencana. 

Dengan adanya kegiatan emergency drill maupun pelaksanaan kegiatan HKB secara serius, setidaknya akan berdampak menghindari kebingungan, ataupun panik untuk menyelematkan diri, dengan kalimat lain orang per orang atau kelompok/komunitas/lembaga/institusi memiliki rencana operasional pengurangan risiko bencana/darurat.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rencana operasional adalah :

1)  kenali gejalanya, informasi dari lembaga resmi pemerintah BPBD/BMKG;

2)  dalam keadaan darurat menetapkan titik kumpul dan daerah aman/perlindungan;

3)  menetapkan personil/petugas/PIC sebagai informan dan juga pemandu untuk menuju tempat aman/perlindungan;


b.  Wilayah Pacitan bagaikan etalase potensi risiko bencana, sehingga  tidak membatasi pada satu jenis keadaan darurat untuk disimulasikan, menyesuaikan dengan lokasi wilayah dan lingkungan secara tepat.

 c.  Selalu memperbarui (update) rencana operasional darurat yang telah disusun sesuai dengan perkembangan dan kondisi wilayah/lingkungan, seperti memperbarui rute evakuasi, meningkatkan metode komunikasi, atau memberikan pelatihan tambahan.

 

Dengan adanya pelatihan kebencanaan, kita berusaha membangun masyarakat yang tangguh bencana. 

Pendidikan dan simulasi penanggulangan bencana secara rutin yang melibatkan semua masyarakat akan menciptakan lingkungan yang lebih siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Salam tangguh….

[Ambyah]

Selamat Datang Jemaah Haji, Sebuah Puisi

 



HAJI, Puisi A.R. Loebis


Haji adalah niat

Haji adalah panggilan

Haji adalah keikhlasan

Haji adalah kesabaran

Haji adalah kebesaran derajat yang dilimpahkan Allah

Atau hanya ingin dipanggil Pak Haji

Iblis terus menari-nari

Bahkan kepada undangan Allah

Tapi manasik haji adalah panggilan

Ketawakkalan kepada Illahiah

Persatuan antar ummat Islam sedunia

Di Haramain: Iblis kelihatan sangat kecil, hina dan marah,

Karena amat banyak rahmat bertebaran

Serta pengampunan dosa dari  Ya Afuwwu Yang Maha Pemaaf.

Haji adalah anugerah.

 

 

Haji adalah Labbaik Allohumma Labbaik

Ketika Nabi Ibrahim AS mendapat titah dari Allah

Untuk mengumandangkan haji kepada manusia

Ia berkata: Wahai Tuhanku, suaraku tidak akanmencapai mereka

Allah SWT menjawab: Kumandangkan saja. Aku akanmenyampaikannya.”

 

 

Masya Allah, Ia menyampaikan undangan langsung

Pantasan setahun sebelum berangkat aku selalu berlinang air mata

Terlebih ketika aku dinyatakan mendapat porsi ke Tanah Suci

Aku tak putus berdoa, solat sunnah berakaat-rakaat,

Mendengar azan aku menangis, berdoa dimana pun hati bergetar

Sampai akhirnya aku tiba di Haramain.

Begitu banyak yang sudah mendapat porsi tapi tetap tak berangkat

Aku bahagia, Alhamdulillah

 

 

Haji  mabrur adalah haji sesudah pulang ke negara masing-masing

Ada kisah, ribuan haji tak diterima Allah,

padahal mereka sedang di Tanah Suci

pasalnya uangnya haram

niatnya palsu

hidup penuh riya

hanya ingin dipanggil Pak atau Bu Haji

sementara ada orang yang niat haji tapi tak jadi ke Makkah

sudah mendapat pahala umroh dan haji,

pasalnya uang haji mereka digunakan untuk

kemaslahatan ummat yang membutuhkan

 

 

Haji mabrur hanya Allah yang mengetahui

Tapi ada ciri, berperilaku lebih baik, memiliki kepedulian sosial

Menyebar kedamaian, santun bertutur kata

Zuhud terhadap dunia mengutamakan akhirat.

 

 

Ya Haadii Yang Maha Memberi Petunjuk

Jagakanlah akhlakul karimah kami

Taqarrub kami kepadaMu

Tadabbur  (pelajaran dari pengalaman)

Tafakkur (berpikir)

Tasamuh (toleransi)

Ta’awun, taliqul wajhi (tolong menolong)

Twashowbil haq tawashow bi alshabri (saling mengingatkan)

Dan qanaah (lapang dada) kami kepadaMu

 

 

Haji bukan gelar bukan panggilan secara horizontal

Tapi panggilan secara vertikal

Berhaji adalah bukti kecintaan Allah kepada hambaNya

Ia tunjukkan langsung yang dirasakan aneh oleh manusia

Yang sombong sudah hapal jalan tiba-tiba kesasar

Yang sombong makanan tak enak, tiba-tiba sakit perut

Yang jijik melihat orang muntah, tiba-tiba muntah

Yang tidak punya uang tiba-tiba ada uang dalam tasnya

Yang berlagak sehat di depan orang sakit, tiba-tiba sakit

Yang bilang tidak punya uang kepada pengemis, tiba-tiba kehilangan uang

Ada yang selalu ingin bunuh diri

Ada yang ingin mati tapi tak mati hingga pulang

Ada yang segar fisiknya tiba-tiba sakit dan meninggal

Ada yang terus ingin buang air kecil setelah di dalam Masjid Haram

Ada yang terus menerus kehilangan sandal

 

 

Haji bukan gelar

Haji adalah panggilan Allah

bukan panggilan bagi yang pulang dari Makkah

Haji adalah niat

Haji adalah keikhlasan

Haji adalah kesabaran

Haji adalah undangan

Haji adalah miqot

Haji adalah gambaran kematian

“miqot” dan “ihrom” sebagai hijrah

dari dunia ke alam sesudahnya.

Haji adalah memotong khewan qurban

Haji adalah mabid di Mina, lempar jumroh dan tahallul.

Haji adalah tawaf

Pergerakan memutar manusia dengan alam semesta

Dengan seluruh makhluk ciptaanNya

Ketika Ibrahim AS mengumumkan tentang haji

dan adanya Rumah Allah

maka semua makhluk

dari golongan manusia, jin, pepohonan, tanah, gunung, air

dan segala sesuatu yang mendengar, dengan serentak menjawab:

“Labbaika Allohumma Labbaika…”

Semua bergerak searah dengan tawaf malaikat di langit ketujuh

 

 

Haji adalah wukuf di Arafah

Perhentian gerak memusatkan pikiran kepadaNya

Jutaan manusia dari lima benua datang memuja satu Tuhan

Memohon ampunan dijauhkan dari siksa api neraka

Ini persatuan manusia se-dunia

Menakutkan bagi musuh-musuh

Tak bisa dinilai dengan pertemuan dunia

Seperti Olimpiade, liga atau temu internasional lain

Aku dekat, aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa

Apabila ia memohon kepadaKu (al-Baqaroh: 186)

 

 

Haji tak selalu dikaitkan dengan uang

Ada haji tukang bubur, ada hajjah tukang pijat

Setelah berhaji semua jamaah melebar

Lingkaran rotasi menjauh

Jarak memanjang

Kembali ke asal, Jakarta – Jeddah 7.997,95 km

Jauh dari elektromagnetik ngung ngung ngung Ka’abah

Jauh dari surga dunia, dunia surga

 

 

Tapi haji yang sebenarnya adalah haji mabrur:

Tidak ada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

Tetapkanlah dan mabrurkanlah

Haji kami Ya Fattah

Yang Maha Kuasa Membuka Perbendaharaan RahmatNya.

***

Tanah Haram, 2012.

 

 


Artikel/Puisi ini sudah tayang dengan judul "HAJI, Puisi A.R. Loebis”
Baca selengkapnya di: https://www.mimbar-rakyat.com/detail/haji-puisi-r-loebis/


Search